Uncategorized

Almost Purnama’s Thought

Duduk di depan meja sambil ditemani rembulan malam dan musik menenangkan, saya langsung seakan kembali merasakan moment yang sama enam tahun lalu saat badai covid menerjang.

Di tempat yang sama, saat itu aku mengalami masa dimulainya babak baru untuk stres dan depresi di tahun-tahun berikutnya hingga saat ini.

Keputusan yang entah berdasar apa, yang jelas bukan logika, membuatku merasakan banyak hal-hal setelahnya.

Tapi hidupku tidak selalunya buruk, makanya tak perlu lah untuk menyesali semuanya.

Mengingat 2020, jujur saya kangen.

Entah kenapa saya merasakan kedamaian walau banyak hal buruk terjadi. Dunia seakan dipaksa rehat sejenak.

Ada banyak sekali hal yang kulalui sejak tahun itu.

Mungkin terlalu banyak…

Hal-hal yang akhirnya membentuk diriku saat ini yang menurut orang lain mungkin salah, andai mereka tau.

Tapi di malam ini aku seakan sadar bahwa aku dipaksa kembali menjadi diriku yang saat itu. Tentunya dipaksa oleh keadaan dan orang-orang sekitarku.

Dipaksa untuk mempercayai hal yang mungkin sudah tidak kupercaya.

Jujur aku tak begitu betah di sini… tapi aku tak tau kenapa.

Mungkin karena aku harus terus-terusan berusaha meredam amarah sambil harus selalu berusaha menuruti keinginannya.

Ah, hidup di bumi perantauan terasa lebih mudah, walau kadang ada tidak enaknya kalau sudah urusan perut.

Tapi hidup di rumah walau urusan perut terjamin, belum tentu urusan kepala bisa aman.

Mungkin aku sudah terlalu jauh….

Jauh dari jalur.

Hal yang sudah kuprediksi sejak saat itu.

Juga sudah jauh tertinggal… walaupun tak sendiri.

Ada banyak orang yang juga tertinggal lari di belakang berusaha mengejar entah apa…

Ingin rasanya kumengumpat sekeras-kerasnya, tapi hanya kesunyian yang selalu ada.

“FAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK”

dalam pikiranku.

Soal nasib, tak ada yang kusalahkan selain diriku.

Tapi soal mental dan pikiran, jelas ada banyak peran orang lain yang membuatku jadi begini.

Pun mungkin tak selayaknya aku menyalahkan siapapun.

it’s all on me.

Andaikan waktu bisa diputar kembali ke masa itu, aku tak yakin akan memilih jalan yang berbeda.

jadi seharusnya kunikmati saja semuanya.

it’s life. My life!

Mungkin tidak senormal lainnya, tapi aku sejatinya masih belum seberapa.

Ada yang jauh lebih sad.

I am actually fine. don’t mind me.

probably.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *