Jogja, kurang cocok buat Introvert?

Mungkin Anda kurang percaya bahwa manusia itu terbagi menjadi extrovert dan introvert. Saya juga kadang setuju.

Tapi dua penggolongan tsb sebenarnya untuk memudahkan saja bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Introvert memang cukup luas bahasannya, tapi yang paling serius adalah soal bersosial dengan sesama manusia.

Soal berwisata, tentu seorang introvert akan pilih-pilih tempat, mana yang paling cocok dengan dirinya.

Saya, sebenarnya gak 100% introvert, atau mungkin iya, entahlah. Yang jelas, saya sering bersikap yang gak introvert banget.

Tapi soal wisata, jujur saja saya lebih suka wisata yang tenang, damai, misanya, tepi laut, gak harus pantai ya, deburan ombak menghantam tebing, itu juga suka banget. Ya jangankan tebing, ombak nabrak batu pembatas di pantai aja, saya udah suka banget.

Saya juga suka wisata air terjun yang gak terlalu ramai, gak harus jebur-jeburan di air, cukup menikmati dari jauh, itu surga dunia banget.

Wisata di tengah padang rumput, juga suka. Lucunya, saya sering seakan menjadi pusat tontonan, padahal pemalu, aneh, tapi itu sebenarnya termasuk dalam sifat introvert, katanya.

Saya kurang suka wisata religi, misalnya ziarah ke makam wali, atau mengunjungi masjid. Bukan karena aktivitasnya yang saya tidak suka, melainkan karena luar biasa ramainya.

Bukannya saya membenci orang-orang tsb, namun saya hanya tidak suka dengan keadaan yang ramai. Bukan berarti anti.

Wisata simple yang mungkin orang lain jarang terpikirkan adalah berhenti istirahat di masjid, saat perjalanan jauh, itu nikmat banget sih, saya suka saya suka….

Nah, kembali ke judul, Jogja itu, cocok gak sih dijadiin tempat wisata bagi introvert?

Jawabannya, ya cocok-cocok aja sih.

Jogja punya banyak pantai yang kueren abeezt. Punya banyak objek bersejarah yang biasanya disukai orang introvert. Dekat ama candi-candi keren!

Tapi jujur saja, pusat keramaian kota Jogja; Jalan Malioboro, saya tidak suka.

Iya, rata-rata orang bakal mengharamkan untuk tidak mengunjungi Jalan maskot kota Jogja ini, tidak bagi saya.

Kecuali, kalau saya jalan ama temen-temen, jangan sendiri jangan duaan, tapi ramean, mungkin saya bisa betah di Jalan Malioboro ini.

Tapi susahnya, jenis kaya saya ini, agak susah buat bikin agenda jalan ramean ama banyak temen, susah, serius.

Paling banyak cuma duaan. Paling sering buat saya, ya sendirian aja.

Saya sempatkan mampir di pantai apa ya, sebelahnya pantai Kesirat itu loh, apa ya. Ntar aku edit kalau ingat.

Wisata Yogyakarta

Nah, pas lagi naik ke atas, ada yang turun. Nanya gini; “loh, sendirian mas? Kok keren banget?”

Begitu.

Nah, pertanyaan “Sendirian mas?” ini saya terima gak tau berapa kali di Jogja.

Seakan, pejalan solo itu gak ada di Jogja.

Ya cuma seakan loh ya!!!

Saya gak ngebanggain saya sendiri yang jalan solo, engggggaaaaa!

Lah saya pengennya ya jalan bareng temen-temen, tapi susah, lah saya pengennya jalan wisata itu di hari kerja, biar sepi, lah kalau hari kerja, ya temen-temen juga pada kerja semua, ribet kan.

Lagi, saya itu gak suka kalau harus urusan ama partner, misal saya mau ke sana, temen minta ke sono, jadi itu juga alasan kenapa saya suka jalan sendiri, biar bebas kemana saja tiada yang melarang, hati senang walau tidak punya uang, wuo ooo….

*To be continued brooo…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *